![]() |
| Pic taken from ramadhanfaizal.multiply.com |
Pada Senin, sekelompok wartawan mendatangi SMA 6 dengan maksud meminta kejelasan dan konfirmasi mengenai kaset rekaman yang diduga dirampas pelajar SMA 6. Saat dialog dengan pihak sekolah sedang berlangsung, diluar sekolah sudah terjadi bentrok antara pelajar dengan wartawan. Karena kalah jumlah wartawan dari Republika, Kompas, Trans TV, Seputar Indonesia, dan Media Indonesia luka-luka karena dikeroyok puluhan siswa.
Poin utama kasus ini buat saya adalah fakta bahwa telah berlangsungnya tawuran di SMA 6 dan SMA 70 selama bertahun-tahun. Dua sekolah itu dikenal sebagai sekolah favorit, sekolah elit yang isinya anak-anak pintar, sebagian anak-anak itu bahkan anak pejabat, jenderal polisi, politikus, dan pengusaha kondang. Karena statusnya yang "elit dan favorit" itu para guru dan kepala sekolah mestinya berupaya menghilangkan tradisi tawuran, bagaimanapun caranya, karena sekolah elit tidak bisa dibilang elit jika perilaku para siswanya begajulan.
Sifat begajulan itu bukan salah pelajar karena jiwa pelajar adalah jiwa remaja labil yang masih selalu ingin coba-coba meskipun hal itu berdampak buruk bagi dirinya. Pihak sekolahlah yang harusnya bertanggung jawab jangan sampai tawuran itu terjadi berulang-ulang dari tahun ke tahun.
