type='image/gif'/>

7/18/11

Mengecap Jejak RA Kartini di Jepara

Ditulis oleh Nisa Ayu Amalia Elvadiani


Dalam rangka memenuhi undangan untuk mengisi acara sebuah festival kesenian dari Pemda Kabupaten Jepara dan Gabungan Seniman Jepara, saya bersama beberapa rekan berkesempatan mengunjungi kota itu.
Festival itu juga dimeriahkan oleh seniman-seniman lainnya dari kota-kota lain di Jawa, selain dari Jepara

Tiga hari berturut-turut acara tersebut digelar didepan museum RA Kartini, di kompleks alun-alun Jepara yang merupakan jantung kota tersebut. Sembari menunggu giliran penampilan kami melihat-melihat sejenak isi dari bangunan museum tersebut. Kami masuk tanpa membayar tiket yang biasanya dibandrol Rp 1000 perorang dewasa. Keadaan tanpa bayar tiket itu dimungkinkan karena kami bukan pengunjung biasa melainkan salah satu pengisi acara.

Dibagian depan kami disambut dengan patung RA Kartini ukuran setengah badan yang dibuat dari perunggu. Ketika masuk ruangan demi ruangan memang tidak ada pengunjung lain, 


sehingga kami dengan leluasa menelusuri satu demi satu ruangan yang ada. Aroma kayu jati khas ditambah suasana remang-remang, menjadi salah satu suasana yang mungkin akan dirasa kurang nyaman bagi beberapa pengunjung. Beberapa rekan bahkan mengakui ketika masuk ruangan museum akan diserbu dengan perasaan merinding dan mampu menegakkan bulu kuduk. Namun keasyikan menjelajahi jejak perjuangan Ibu Kartini jauh lebih membangkitkan rasa penasaran saya saat masuk ke bangunan tersebut.

Ruang museum RA Kartini terbagi atas 4 ruang utama. Ruang pertama sebagai ruang penyimpanan dokumentasi koleksi peninggalan RA Kartini. Ruang kedua adalah ruang yang menyimpan dokumentasi sejarah atas kakak dan seseorang yang cukup berpengaruh atas pemikiran RA Kartini, yaitu DRS. RMP Sosrokartono, seorang sarjana lulusan Leiden, Belanda yang menguasai 26 bahasa dan ahli pengobatan dengan media air putih dan sarana kata agung “Alif”. Ruang ketiga berisi koleksi benda-benda yang bernilai sejarah antara lain tulang ikan raksasa “Joko Tuwo” dengan panjang kurang lebih 16 meter, berat kurang lebih 6 ton, lebar 4 meter, tinggi 2 meter dan berumur kira-kira 220 tahun. Tulang ikan ini ditemukan di perairan Karimunjawa pada pertengahan bulan April 1989. Ruang keempat berisi koleksi kerajinan Jepara, ukir-ukiran, keramik, anyaman bambu dan rotan serta hasil karya lomba ukir dan alat transportasi kuno.

Ruang koleksi peninggalan RA Kartini dibagi dengan partisi yang lebih kecil lagi, yaitu masa kecil RA Kartini dan masa sesudah ia menikah. Dalam ruangan ini selain terdapat peninggalan asli RA Kartini seperti mesin jahit, kotak bothekan atau penyimpan jamu-jamuan, juga terdapat dokumentasi replika tulisan tangan RA Kartini.

Akan datang jua kiranya keadaan baru dalam dunia Bumi Putera, kalau bukan oleh karena kami tentu oleh karena orang lain.

Kami akan menggoyah-goyahkan gedung feodalisme itu dengan segala apa yang ada pada kami. Dan andaikan hanya ada satu potong batu yang jatuh, kami akan menganggap hidup kami tidak sia-sia.
Dan siapakah yang lebih banyak dapat berusaha memajukan kecerdasan budi itu, siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia ialah wanita, ibu, karena haribaan ibu itulah manusia, mendapatkan didikannya yang mula-mula sekali.

Kaum muda masa sekarang, tiada pandang pria atau wanita, wajiblah berhubungan masing-masing sendiri-sendiri memang dapat berbuat sesuatunya akan memajukan bangsa kami, tetapi apabila kita berkumpul, bersatu, mempersatukan tenaga, bekerja bersama-sama, tentu usaha itu akan lebih besar hasilnya.

Kemenangan seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukkan diri sendiri.

Kelima potongan pesan tersebut terpampang pada lima potongan besar kayu jati ukiran ukuran tinggi 2 meter dan lebar 1,5 meter. Kelima pesan tersebut merupakan beberapa pesan yang termaktub dalam penggalan surat-surat RA Kartini.
Di samping mengembangkan pemikiran-pemikiran nasionalismenya, Kartini dan saudara-saudaranya juga merupakan bangsawan yang sangat menyenangi kesenian, beberapa lukisan hasil karya saudara Kartini maupun karya Kartini sendiri juga dipamerkan, disamping hasil kerajinan tangan berupa renda sulaman tangannya.

Setelah masuk ke beberapa ruangan kami merasa memperoleh banyak bekal sejarah. Ada sebuah pesan tentang menghargai arti dan makna peran seorang ibu bagi perkembangan derajat dan budi seorang manusia.

Dan siapakah yang lebih banyak dapat berusaha memajukan kecerdasan budi itu, siapakah yang dapat membantu mempertinggi derajat budi manusia ialah wanita, ibu, karena haribaan ibu itulah manusia, mendapatkan didikannya yang mula-mula sekali.


No comments:

Post a Comment