type='image/gif'/>

3/27/10

Kaget Internet

Sudah jadi “aturan wajib” bahwa orang yang ingin aktif di dunia maya – terutama di forum- harus menggunakan nama samaran. Selain untuk melindungi identitas pribadi, orang bisa lebih bebas berekspresi dan dinilai secara objektif. Untuk selanjutnya orang-orang yang aktif berkegiatan di internet secara umum akan dinamakan netter atau netizen. Bila ia punya blog dan aktif mengelola blog itu maka secara khusus ia disebut blogger -yang belakangan ganti nama menjadi narablog.

Internet adalah dunia nyata kedua yang jadi “rumah” bagi banyak orang,  Kenapa saya bilang dunia nyata kedua? Karena dibalik layar komputer, laptop, dan ponsel yang menjadi sarana menuju dunia internet, ada manusia-manusia yang secara sadar berselancar dan membuat kehidupan baru disana. Orang merasa nyaman disitu karena ia bisa menjadi pribadi yang berbeda untuk mencari eksistensi diri yang tak didapatnya di kehidupan  sehari-hari. Bagi sebagian yang lain internet adalah media perluasan citra, popularitas, dan bisnis. Dan jeleknya, bagi sebagian lain internet dianggap dunia yang tepat untuk bermain api cinta.

Sebenarnya, jika digunakan sesuai porsinya, internet lebih banyak positifnya dibanding negatifnya.  Internet adalah tempat belajar paling luas sejagat raya. Seorang ibu rumah tangga bisa belajar membuat blog yang digunakan untuk mengumpulkan resep-resep makanan unik dari seluruh dunia, atau blog itu bisa ia gunakan sebagai tempat berjualan. Bila memungkinkan ia bahkan bisa belajar membuat website sendiri. Lalu para pelajar bisa menggunakannya untuk mempelajari pengetahuan diluar pelajaran sekolah. Kalau dulu kita mengenal sahabat pena, kini kita bisa mendapat sahabat maya.  Hal-hal diatas adalah contoh positifnya berselancar di dunia maya.  Kalaupun ada efek negatif itu hanya ekses dari perilaku pengguna internet yang “kaget internet.”

Orang yang kaget internet sekonyong-konyong merasa bebas melakukan apa saja di dunia itu. Masih ingatkah kita waktu pertama kali masuk ke internet? Surprise, terpesona,  dan takjub karena merasa begitu mudahnya melakukan banyak hal di dunia internet.  Seluruh isi bumi seolah ada ditangan kita.  Seseorang bisa melihat situs porno, membuat surat elektronik, bertemu teman lama, mencari informasi, dan berkenalan dengan orang-orang baru dari berbagai belahan bumi. Karena itulah sebelum melihat “dunia luar” melalui internet seseorang mestinya didampingi oleh orang lain yang telah mengerti menggunakan internet, agar terhindar dari “kaget teknologi.”

Kenapa harus didampingi? Supaya pemula yang belum biasa berinternet tahu apa yang mereka cari dan paham apa yang akan ditemui kelak di internet.

3/19/10

Suporter Bola yang Meraja



Bonek - suporter Persebaya
Sebagian dari kita mungkin sangat tahu siapa itu Jakmania. Juga mafhum  apa itu Bonek.  Kedua nama itu adalah kelompok suporter pendukung klub sepakbola Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya. Lalu, kemudian, apakah Anda tahu siapa Markus Horison atau Ricardo Salampessy?

Baiklah, kalau begitu mari kita kenalan dulu. Markus Horison adalah nominator kiper terbaik Asia 2009 asal klub PSMS Medan. Satu-satunya nominator pemain terbaik dari Indonesia. Hebat, kan? Lalu Ricardo Salampessy adalah pemain dari Persipura Jayapura. Ricardo memang bukan nominator pemain terbaik  tapi ia sama-sama bermain untuk tim nasional bersama Markus.

Viking - suporter Persib
Nah, dari kilasan diatas tadi jelas bahwa para suporter klub sepakbola lebih terkenal daripada pemain sepakbola itu sendiri. Namun yang disesalkan adalah terkenalnya mereka karena berperilaku buruk, bukan karena hal baik. Selain perilaku buruk suporter ketika menonton klub kesayangannya bertanding –mengganggu lalu lintas, melempari bus umum, merusak kendaraan pribadi dan merusak stadion– adalah  bernyanyi. Nyanyian itu memang merdu dinyanyikan beramai-ramai saat pertandingan berlangsung. Tapi sayang seribu sayang, nyanyian itu penuh dengan kata-kata “anjing”, “bantai”, “bunuh”, dan lainnya, yang ditujukan untuk menghina kelompok suporter lain.

Perpanjang KTP Panjaaaang Ribetnya

Saya adalah orang keseribu, atau mungkin kesejuta yang mengeluh soal repotnya mengurus KTP di negeri ini (Jakarta terutama). Yang akan saya tulis berikut ini sudah pasti sering ditulis orang, tapi saya akan tulis lagi siapa tahu malaikat menggerakkan hati para aparat pemerintah agar pengurusan KTP dipermudah dan tidak buang waktu lagi, Amin!

Pertama, untuk memenuhi syarat utama memperpanjang KTP, saya datang ke rumah sekretaris RT untuk minta surat pengantar, setelah itu saya pergi ke rumah ketua RT untuk minta tanda tangan di atas surat pengantar tadi. Baru langkah pertama saja sudah repot begini. Kenapa blanko surat pengantar tidak disimpan RT saja? Apa fungsi dari sekretaris RT sementara ketua RT hanya bertugas untuk menandatangani? Sampai disini saya diminta mengisi kas RT serelanya. Kalo ga rela gimana, pak? hehehe!

Kedua, pergi ke ketua RW untuk minta tanda tangan lagi diatas surat pengantar itu. Ndilalahnya, di lingkungan tempat tinggal saya ada kantor RW yang buka hanya pada malam hari pukul 20.00 – 21.00, telat sedikit saja harus datang lagi esok harinya. Dalam hal ini menurut hemat saya kantor RW sangat tidak perlu dan tidak berguna. Warga yang akan mengurus kelengkapan surat-surat kan bisa langsung datang ke rumah ketua RW. Lebih praktis dan langsung ketemu orang yang dituju. Sampai disini saya tidak dimintai uang sepeserpun, mungkin karena saya belagak cuek, kalau basa-basi sebentar mungkin saya harus rela keluar uang Rp 10 – 20 ribu untuk mengisi kas RW.

Senin pagi saya ke kelurahan lalu menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan. Tunggu 5 menit lalu saya dipanggil, “Balik kesini tanggal 10 ya untuk foto, nanti bawa kertas ini untuk foto,” kata seorang petugas berseragam coklat khas Pemda kepada saya.

“Tanggal sepuluh?! Kenapa butuh waktu seminggu cuma untuk foto?!

“Ini sudah prosedur, Mbak. Oh ya, biayanya Rp 15.000.”

Apa?! Cuma menyerahkan berkas dimintai uang lima belas ribu?! Alamak! Betapa terlalu kelurahan Gandaria Utara ini!  Bukan masalah nominalnya, tapi saya itu CUMA menyerahkan fotokopi kartu keluarga, KTP asli, dan surat pengantar RT/RW kok dimintai Rp 15.000 buat apa ya? Tapi saya tak mau memperpanjang urusan dengan aparat kelurahan karena saat itu sudah jam 9.15 sementara waktu kerja saya mulai jam 8.45. Untunglah dari rumah saya ke kantor kelurahan hanya butuh 5 menit jalan kaki jadi selama itulah saya mengomel dalam hati. Kalau jaraknya lebih jauh saya akan lebih banyak dosa karena akan mengomel lebih lama lagi.

Tanggal sepuluh (saat tulisan ini diedit) saya datang ke kelurahan, dipanggil untuk foto dan ambil sidik jari, setelah  itu saya menghadap ke meja si ibu tukang foto lalu dia bilang :

“Ini ada sumbangan, mau nyumbang berapa?”

Saya sekilas melihat kalau tumpukan kertas mirip buku kwitansi kecil itu adalah sumbangan PMI. Saya tak bisa perhatikan lebih jelas karena buku itu diletakkan mepet ditangan si ibu, kalau buku itu ada ditengah meja mungkin saya bisa melihat tulisan dalam buku itu lebih jelas.


3/10/10

Guru Dulu Juga Kejam

Beberapa waktu ini banyak cerita dan berita tentang cara mengajar guru yang kelewatan, seperti mencubit, memukul, menjemur di terik matahari, sampai melempar dengan benda berat. Kisah cara mengajar guru kepada muridnya ini membuat saya ingat kejadian serupa saat masih sekolah dulu. Ini “sepenggal kisahnya.”

Tahun 1987 – 1993 saya sekolah di SDN Rawa Barat 01 Kebayoran Baru Jaksel (sekarang sekolah ini digantikan oleh SMK negeri). Di sekolah itu ada 2 guru yang terkenal kejam karena tak segan-segan memukul dan mencubit, bahkan melempar penghapus kayu kepada murid-murid yang dianggap nakal. Guru pertama adalah Ibu Ratna (almarhumah), guru kelas 1 dan Pak Rahman, guru kelas 4.

Beruntung bagi saya, karena dianggap anak pintar dan berprestasi, saya jarang kena cubitan atau pukulan kedua guru itu. Malang bagi teman-teman saya, kalau berisik di kelas, mereka sering kena pukul telapak tangannya oleh penggaris besi atau tamparan yang diayunkan Pak Rahman. Kalau ketahuan ngobrol di kelas, penghapus kayu akan mampir ke kepala mereka, kalau PR-nya salah, apalagi tidak dikerjakan, mereka akan disuruh berdiri depan kelas dengan satu kaki.