type='image/gif'/>

2/27/10

Asyiknya Jadi Agen Asuransi

Sebelumnya pasti sudah terbayang betapa susahnya jadi agen asuransi karena harus menawarkan ke banyak orang supaya mereka mau membeli asuransi dari kita. Iya, kan? Padahal tidak sesusah itu lho!

Pada 2014 pemerintah mencanangkan bahwa setiap warga Indonesia harus punya asuransi, minimal asuransi perlindungan diri. Itu berarti masih banyak jutaan orang yang berpotensi membeli asuransi, terutama asuransi jiwa.

Sekarang ini penetrasi  market asuransi jiwa di Indonesia masih sangat rendah. Total polis individu masih sekitar tiga persen dari total penduduk yang ada. Angka tiga persen secara presentase memang rendah meski secara absolut tiga persen dari 200 juta penduduk  adalah sekitar enam juta  orang namun jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang sudah di atas 10 persen. Sementara itu Singapura lebih tinggi lagi. Jadi rakyat Indonesia kalangan menengah keatas yang belum memiliki asuransi masih banyak jumlahnya.

Lebih dari itu, produk-produk asuransi bukan sekedar asuransi kesehatan,  pendidikan, kecelakaan atau kematian, namun juga sekaligus investasi. Bila dibandingkan dengan menyimpan uang di bank, menyimpan uang dalam bentuk asuransi (bisa berupa unit link) jauh lebih menguntungkan. Misal, sebagai contoh, kita menyetor uang Rp 15 juta pertahun di bank, selama 5 tahun berturut-turut. Sepuluh tahun kemudian uang kita menjadi Rp 100 juta.

Tapi di asuransi dengan nilai dan tahun yang sama uang kita bisa menjadi  Rp 150 - 200 juta.
Kaum muslim juga tidak perlu khawatir karena sudah banyak produk asuransi berbasis syariah dengan sistem yang Islami. Fakta dilapangan menunjukkan bahwa produk asuransi syariah banyak diminati oleh kalangan non-muslim. Agen-agen asuransi berhasil memasarkan produk Hasanah Berkah dengan premi dasar bernilai ratusan juta rupiah dari pembeli polis non-muslim.

Melihat pasar yang luas dan potensi pendapatan yang besar tentu membuat profesi menjadi agen asuransi sungguh menyenangkan.  Yang pasti, semua agen asuransi, baik yang bekerja full time maupun freelance, harus punya sertifikat.  Orang yang menjual asuransi tapi tidak punya sertifikat tidak akan dapat menjual, memasarkan ataupun melakukan segala transaksi asuransi. Sertifikat ini membuktikan kalau agen asuransi adalah pekerjaan profesional bukan selingan seperti MLM.

Agen asuransi akan mendapat komisi dari presentase premi dasar yang ia jual. Jika Anda menjadi agen asuransi tidak ada yang memaksa Anda memenuhi target kecuali Anda sendiri yang bertekad memenuhi target itu. Untuk membeli rumah atau mobil, misalnya.
Jadi, kalau Anda tertarik untuk menjadi agen asuransi, silahkan kirim email ke : maw.consult@yahoo.com. Anda akan didukung penuh untuk memasarkan produk-produk asuransi dari perusahaan asuransi terkemuka kepada calon nasabah. Bahkan bila Anda kesulitan mempresentasikan produk, leader Anda siap membantu Anda di lapangan.

Selamat menjadi agen asuransi profesional!

E-Voting yang Belum Penting

Beberapa waktu lalu sejumlah pihak diantaranya Hamdan Zoelva (Hakim Mahkamah Konstitusi), Ganjar Pranowo (Wakil Ketua Komisi II DPR), Abdul Azis (Anggota KPU), Bambang Eka Cahya Widodo (Anggota Bawaslu), Hammam Riza (Direktur Pusat Teknologi Informasi BPPT), dan Peter Erben (Country Director IFES Indonesia), menggulirkan kembali wacana electronic voting atau E-Voting untuk pemilihan umum.

E-Voting diyakini akan menghemat biaya karena tidak perlu mencetak surat suara, penghitungan suara lebih cepat, dan sederhana.

Ah, benarkah se-simple itu pelaksanaan E-Voting? Bagaimana dengan hacker dan cracker yang nanti akan masuk ke sistem Pemilu E-Voting dan mengacak-acaknya? Indonesia punya banyak hacker dan cracker lho! Bahkan dulu pernah hacker dari Indonesia masuk ke sistem keamanan FBI di Amerika sana.
Kemudian bagaimana kalau E-Voting dimanfaatkan pihak tertentu untuk curang dan memanipulasi sistem supaya kelompoknya menang? Pada Pemilu 2009 lalu yang "hanya" menggunakan E-Counting, kecurangan penghitungan diduga terjadi untuk memenangan pasangan calon presiden tertentu. Penghitungan manual diyakini relatif bebas kecurangan meskipun makan waktu lama.

2/24/10

Pot Subur Hutan Gundul

Seratus juta pohon harus ditanam di Indonesia, kata pemerintah beberapa tahun lalu.
Maka mulailah ibu-ibu PKK, anak sekolah, pegawai negeri, sampai tentara semua tumplek-blek menanam tumbuhan di pot, kebun, halaman rumah dan sekolah, atau taman kota. Bagus sekali dan perlu didukung supaya kota jadi segar dan hijau royo-royo. Penduduk jadi sadar lingkungan.

Tapi sepertinya ada yang ketinggalan nih. Ketinggalan ini mungkin hanya berlaku bagi saya yang kurang pergaulan alias kuper dan kurang informasi. Sepertinya program reboisasi atawa penanaman kembali hutan kok kurang digalakkan?! Bukankah hutan yang rusak dan gundul merupakan salah satu penyebab pemanasan global?! Rusaknya hutan juga berarti hilangnya habitat hewan dan musnahnya keanekaragaman hayati, bukan?! Jadi kenapa tidak ada usaha keras untuk menyelamatkan hutan selain merazia kayu gelondongan ilegal?!

Penyelamatan hutan (reboisasi, penghijauan, dan pemeliharaan) lebih mendesak dilakukan karena selain menghambat pelepasan gas-gas hasil polusi, punahnya hewan karena habitatnya rusak bisa dicegah, juga bencana seperti banjir dan longsor. Selain itu pepohonan memang mengikat gas karbondioksida, karena itulah ia mampu mencegah polusi dan membuat udara segar. Namun, pohon-pohon yang mati akan melepaskan kembali karbondioksida yang dulu disimpan pada jaringan kulitnya. Jika tidak ada pohon baru yang menggantikan mengikatnya, maka karbondioksida itu akan lepas ke atmosfer dan menumpuk di rumah kaca, menyebabkan panas yang dikirim ke bumi lebih banyak.

2/13/10

Drumline

 Film ini termasuk film lama tapi aksi kelompok marching band yang ada di film ini membuat kita betah menontonnya berjam-jam. Film ini mengisahkan tentang kelompok marching band di salah satu universitas dengan bintang utama bernama Devon. Devon tidak bisa membaca not balok namun mahir memainkan alat musik snare drum.

Devon memang berbakat namun perilakunya yang sombong dan tidak taat aturan membuatnya harus dikeluarkan dari grup. Untunglah kemudian ia sadar  bahwa dalam marching band penonton tidak mendengar permainan satu orang, mereka mendengar permainan seluruh pemain. One band one sound.

Jarang kita melihat ada film dengan aksi marching band 30 - 50 orang paling banter band  musik biasa yang hanya terdiri dari 4-7 orang. Selain aksi musik dan koreografinya, yang paling bagus adalah adegan ketika para penggebuk drum beraksi. Kepiawaian penggebuk drum ini bisa membuat kita terpana menyaksikannya. 

Tunggu apa lagi? Film asyik ditonton untuk menghilangkan kepenatan sehari-hari lho! Silahkan download filmnya disini : Cinema3Satu